Walau bertubuh maxi, ketiganya nampak mempesona dan percaya diri dalam balutan bikini dan garter.
Tara Lynn, Candice Huffine, dan Robyn Lawley tak menyangka akan berpose di restoran sekelas Waldorf Astoria New York, dalam bidikan fotografer Steven Meisel.
“Kami tak tahu harus berharap seperti apa. Kami tahu, hasil pemotretan ini diprediksi akan dipilih sebagai cover, tapi saya belum percaya sebelum melihatnya sendiri,” tutur Huffine pada Styleite pekan lalu.
“Beberapa hari yang lalu saya melihatnya lewat ponsel, tapi karena saya belum memegang majalahnya, saya masih bertanya-tanya, apakah ini nyata?” lanjutnya.
Penggunaan plus-size model dalam pemotretan untuk fashion spread mulai menjadi tren selama beberapa tahun belakangan.
Sayangnya, kondisi ini tidak diikuti dengan pendapatan sang model yang, ternyata, lebih rendah dari foto model bertubuh langsing. Fakta ini diungkap editor-in-chief Vogue Italia, Franca Sozzani pada The Cut, Senin (6/6).
“Untuk saat ini, saya rasa model bertubuh gemuk tidak akan mendapat proporsi sama dengan model berbadan langsing. Sama seperti melihat proporsi model berkulit putih dan hitam,” ungkapnya.
Sozzani menambahkan, penggunaan model bertubuh maxi biasanya hanya untuk membuat sesuatu yang berbeda dan kepentingan provokasi isu tertentu. Seperti yang dilakukan rumah busana Prada, musim dingin lalu.
“Sejak dua tahun lalu semakin banyak model berkulit hitam yang berseliweran di catwalk. Hal ini memang membawa perubahan, tapi tidak memberi efek pada semua orang. Alih-alih memajang model bertubuh kurus, kenapa kita tidak memasang ‘wanita yang sebenarnya’?” ujarnya.
sumber : tabloidbintang.com
No comments:
Post a Comment